Derita Masyarakat Dalam Membuat E-KTP
Sepertinya, masalah dalam pembuatan E-KTP sudah menjadi rahasia umum di Indonesia. Bagaimana tidak, kartu sebagai tanda penduduk Indonesia yang wajib dimiliki oleh masyarakat 17 tahun ke atas ini sangat sulit di buat di Negara ini. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari KTP ini sangat selalu dibutuhkan, entah dalam soal mencari pekerjaan, berbagai transaksi dan lain sebagainya.
Saya ingin cerita sedikit pengalaman saya dalam pembuatan E-KTP. Sekitar bulan Oktober 2017 lalu, saya datang ke kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Saya datang jam 6 pagi karena mendengar katanya harus datang pagi2. Ternyata, jam 6 pagi sudah ada sebagian orang menunggu di kursi tunggu kantor. Padahal, kantor baru buka jam 8 pagi, saya ikut menunggu sampai kantor buka dan semakin siang semakin ramai saja masyarakat yang datang kesitu. Sekitar jam 8, petugas kantor pun mulai menyiapkan alat2 perekaman dan alat lainnya untuk keperluan pembuatan surat kependudukan.
Yang membuat saya terkejut, petugas kantor memberikan pengumuman dengan nada yang tinggi dan sedikit keluar kata2 kasar dan memarahi warga yang menanyakan alur perekaman, pembuatan surat keterangan bagi yang E-KTP nya belum jadi dan pembuatan surat2 kependudukan lainnya. Maksud saya, kenapa orang itu bisa mengeluarkan kata2 kasar, secara dia adalah petugas pencatatan sipil yang seharusnya melayani masyarakat dengan ramah dan tidak menyinggung bahkan menyakiti hati. Tak jarang petugas kantor itu berdebat dengan orang2 yang menanyakan hak nya atas E-KTP dengan kata2 kasar dan mata melotot. Saya lihat, banyak dari mereka yang dimarahi sudah tua, lusuh karena mungkin dari Desa karena jauhnya perjalanan menuju kantor yang berada di pusat kota provinsi itu. Tak jarang juga dari mereka yang membawa anak kecil. Dalam hati saya berkata, "Ya Allah, begini menderitanya masyarakat di Negara yang kaya nan luas ini, ingin berontak tapi kepada siapa? Percuma orang2 di atas sana tidak akan mendengarkan."
Beberapa jam saya menunggu antrean dan akhirnya mendapat giliran perekaman. Tak berlama-lama perekaman pun selesai. Lalu saya bertanya kepada petugasnya. "Pak, kira2 KTP saya kapan jadi?" Bukannya di jawab, petugas itu malah ketawa seperti yang meledek, ekspresi wajah saya pun bertanya-tanya. Akhirnya petugas itu pun menjawab dengan acuh, "jangan mikirin kapan jadinya, saya gaberani jawab kapan KTP itu jadi." makin aneh aja saya dengan sistem pembuatan E-KTP ini. "lah kok gitu pak? Terus saya harus gimana supaya tahu KTP saya udah jadi?". Katanya, "rajin2 saja datang kesini dan tanya kapan KTP nya jadi."
Tak mau sia2 jauh2 datang ke Kantor Capil, akhirnya saya ikut antrean lagi untuk membuat surat keterangan bukti sudah melakukan perekaman dan juga untuk mengganti fungsi penggunaan sementara E-KTP yang belum jadi. Dari kursi antrean saya lihat, lagi2 petugas pembuat surat keterangan sesekali memarahi warga dan hanya memasang wajah cemberut tak ada cahaya. Bagian saya pun akhirnya tiba. "kapan kamu merekam?" tanyanya cuek. "barusan, pak." jawabku apa adanya. Dia malah geleng2 kepala, aku tak tahu apa artinya. Setelah surat nya jadi, saya pun mengucapkan terima kasih, dan apa yang terjadi, dia tak menjawab apapun dan malah memalingkan wajahnya masih dengan wajah cemberutnya. Sudah susah membuat E-KTP, ditindas pula saat proses pembuatannya.
Dari cerita tadi, kapankah para petinggi2 negara, para pemimpin benar-benar mempedulikan masyarakatnya? Gampang lah mensejahterakan pembangunan, ekonomi dll. Minimal, pembuatan E-KTP saja dulu gampangkan untuk masyarakat, jangan masyarakat di tindas melulu, dicaci maki hanya karena pembuatan KTP. Sudah sulit mencari pekerjaan, sulit pula pembuatan dokumen awal untuk mencari pekerjaan. Ayolah para pemimpin, rasakan penderitaan rakyat 1 detik saja, jangan terbuai terus dalam kekuasaan. Katanya perwakilan rakyat, eh malah mengkhianati rakyat.
Tapi saya yakin, tidak semua para pemimpin, para wakil rakyat hanya peduli pada diri sendiri dan golongannya. Pasti banyak juga dari mereka yang mempunyai hati bersih dan benar-benar ingin mengabdi pada negara dan masyarakat.
Kita doakan semoga pemimpin2 kita sadar akan amanahnya mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya, karena itu akan menjadi ladang pahalanya di Akhirat kelak. Aamiin.

Komentar
Posting Komentar