Izinkan Aku bertemu denganmu, walaupun kepedihan yang nanti Aku rasakan

Rasa ini sudah hampir tak terbendung dalam benak. Kerinduan demi kerinduan terus menghujam dalam hati. Entah kau merasakan hal yang sama atau malah tidak sama sekali.

Izinkan Aku bertemu denganmu, saling bertegur sapa, saling memberi kenyamanan, saling membalas tawa.

Aku rindu saat Aku mengejekmu ketika di bawah bibirmu tertinggal bekas makanan, lalu Aku membuangnya, wajahmu tersipu malu dibuatnya.

Aku rindu ketika Aku memegang hidungmu, Kamu merasa risih dan cemberut kepadaku, lalu Kita tertawa sama-sama.

Aku rindu saat kita duduk  berdua, wajahmu membelakangiku, lalu Aku panggil Kamu dan kuletakkan telunjukku di belakang pipimu, seketika Kau menoleh dan pipimu menabrak telunjukku dan kamu kaget, kamu kesal, lalu Kita tertawa sama-sama.

Aku rindu ketika kamu marah-marah, tak sedikit pun senyuman kau berikan padaku karena Aku tak menjaga kesehatanku lalu  jatuh sakit dan membuatmu merasa khawatir.

Itu dulu, dulu sekali.

Sekarang, entah kemana perhatian-perhatian itu tertuju. Apakah karena masalah waktu, jarak, atau apapun itu Aku tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Aku tidak pernah berpikir akan seperti ini kejadiannya dan tidak pernah kuharapkan sedikit pun. Tidak pernah.

Sekarang, izinkan Aku bertemu denganmu, melampiaskan apa yang ada dibenakku, menanyakan apa maumu, sampai kau marah, kesal mendengarnya,  walaupun kepedihan yang nanti Aku rasakan dari pertemuan itu. Aku rela. Sungguh.

Walaupun penyesalan, sakit, patah, hancur  yang akan kurasakan dari pertemuan itu, Aku siap.

Karena, sudah mencintaimu saja adalah anugerah terindah dalam hidupku. Aku bisa merasakan bagaimana cinta yang tulus tak bersyarat, yang mungkin tak pernah orang lain rasakan dengan kekasihnya.

Izinkan Aku bertemu.

Komentar