Untukmu, Sahabatku Yang Malang



Kriiiing....Kriiiing.....Kriiiing......!!!
     
  Bunyi suara itu membangunkanku dari tempat tidur persegi panjang yang terletak di sudut ruangan kamarku. Mataku yang masih enggan untuk membuka kupaksa untuk terbuka demi nilai UAS mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ya, pekan ini adalah pekan yang sangat menegangkan bagiku, karena sebentar lagi aku akan melaksanakan Ujian Nasional di sekolah dan pagi ini aku sedang melaksanakan ujian sekolah detik-detik menuju UN .
          Oh iya, aku hampir lupa memperkenalkan diri, namaku Arya, aku tinggal di Kota Serang, seorang pria yang sangat menyukai tantangan dan pekerja keras, ya, itu yang teman-temanku katakan tentangku. Karena, hampir setiap tugas sekolah, seberat apapun itu, aku selalu mengerjakannya tepat waktu bahkan jauh sebelum waktunya tugas itu dikumpulkan aku sudah selesai mengerjakannya. Namun sisi lainnya, aku sangat pelupa dan teledor akan setiap barang-barang pribadiku. Kemarin, setelah selesai mengerjakan ujian sekolah dan mengumpulkannya kembali kepada pengawas, aku langsung keluar kelas tanpa membawa tasku yang masih berada di meja ujianku, sontak teman-teman yang sudah biasa dengan sifat pelupaku segera memanggilku yang sudah melewati pintu kelas.
          Kini, aku sudah selesai mandi dan berseragam rapi sebagaimana siswa SMA, sarapan terlebih dahulu di meja makan yang telah disiapkan oleh Ibu.
“Arya, hari ini ujian apa?” tanya Ibu yang duduk di hadapanku.
“Bahasa Indonesia, Bu.”
Ibu hanya mengangguk.
”Kenapa, Bu?” tanyaku heran melihat Ibu sedikit melamun.
Ibu tiba-tiba tersenyum.
“Tidak, Ibu hanya teringat masa kecilmu ketika masih senang bermain di halaman rumah bersama Toni, tapi sekarang kamu sudah mau lulus SMA.” Ibu tersenyum.
Aku sedikit terharu mendengar Ibu berkata seperti itu.
“Alhamdulillah, berkat Ibu yang mengurusku dengan sangat baik, aku bisa tumbuh sampai sekarang.”
Aku tersenyum pada Ibu, Ibu tersenyum padaku.
           Selesai sarapan, aku langsung pamit kepada Ibu dan adikku yang sedang libur karena kelas 3 sedang gencar melaksanakan ujian. Sedangkan Ayahku sudah terlebih dahulu berangkat ke tempat kerjanya. Aku bergegas ke bagasi mengeluarkan sepeda motor dan memanaskannya. Sementara Toni sudah duduk di teras rumahnya menungguku.
          Toni adalah tetangga sekaligus sahabat yang dari SD selalu satu sekolah denganku bahkan satu kelas.
“Ton, sudah siap?” tanyaku berbasa basi.
“Selalu siap, Ya.” Jawabnya singkat karena setiap pagi kejadiannya selalu sama, dia menunggu di teras rumahnya yang berada disebelah rumahku tanpa terhalang pagar, dan aku selalu menanyakan hal yang sama.
          Kami berangkat dengan sepeda motorku dan menyusuri ramainya Kota Serang di pagi hari layaknya kota-kota lain karena pagi hari adalah jam sibuk.
“Ya, bagaimana pertanyaanku kemarin?” tanya Toni yang duduk di boncengan motorku.
“Pertanyaan yang mana, Ton?
“Itu, soal tempat kuliah.”
“Nanti aja aku jawab di sekolah, ya.”
          20 menit diperjalanan, akhirnya kami sampai ke sekolah, memarkirkan motorku dan bergegas menuju ruang ujian. Di kelas, ternyata pengawas ujian sudah duduk di bangku nya dan terlihat sedang membuka amplop berisi lembar soal dan jawaban. Beruntung aku dan Toni tidak terlambat terlalu lama.
           Seperti biasa, aku selalu berdoa sebelum mengerjakan ujian dan tentunya memohon kemudahan kepada Allah SWT. Agar lancar dalam menjawab soal dan mendapat nilai yang maksimal.
          Dipertengahan mengerjakan ujian, aku sedikit melamun dan teringat pada pertanyaan Toni di perjalanan tadi. Memang, aku sedang memikirkan akan melanjutkan ke Universitas apa setelah lulus nanti. Beberapa waktu lalu, teman-teman di kelas memang membahas dan saling mempertanyakan satu persatu akan melanjutkan ke Universitas mana kita sekelas setelah lulus. Dan sangat beragam pilihan mereka yang sudah memutuskan Universitas lanjutannya, ada yang di Uiversitas di kota Serang sendiri yakni Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten (UIN SMH Banten), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) dan perguruan tinggi lainnya, ada juga yang mau merantau keluar kota seperti ke Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta), ke Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung (UIN Bandung), ke Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Yogyakarta), ke Universitas Indonesia (UI), ke Universitas Gajah Mada (UGM), dan perguruan tinggi lainnya di Indonesia.
          Namun aku masih bingung Universitas mana yang akan aku jadikan tempat menuntut ilmu berikutnya. Tapi, dalam benakku, aku ingin masuk ke UIN, karena menurutku, selain mendapat ilmu umum, aku juga bisa memperdalam ilmu agama jika aku kuliah di UIN, tapi aku belum menentukan UIN mana yang akan menjadi pilihanku.
           Ditengah-tengah lamunanku yang sedang memikirkan kemana aku melangkah selanjutnya, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dan sontak aku terkejut.
“Ya, kamu kenapa melamun? Memang sudah selesai ujiannya?” tanya suara perempuan. Ia adalah Indah, yang duduk satu meja denganku pada ujian ini.
“Oh, iya, aduh aku lupa, ternyata sedang ujian.” Seketika aku fokus kembali.
“Yah, kamu, Ya, ada-ada saja.”
           Akhirnya setelah beberapa menit berlalu aku berhasil menyelesaikan ujian Bahasa Indonesia itu, juga teman-temanku yang sama-sama telah menyelesaikannya dan di kumpulkan kepada pengawas.
          Di rumah, aku tak banyak kegiatan selain belajar untuk menghadapi Ujian Nasional pekan depan. Namun, aku jadi teringat terus pertanyaan Toni soal mau masuk kuliah ke Universitas mana. Akhirnya, aku buka komputerku dan melihat internet lalu melihat-lihat profil-profil Universitas yang ingin aku masuki.
          Tok....Tok....Tok.....!!!
          “Arya?”
          Suara Ibu memanggil diluar kamar.
          “Iya, Bu, masuk.”
          “Ya, gimana kamu udah dapet kampus untuk melanjutkan kuliah?” tanya Ibu.
          Aku bingung.
          “Eum...belum tahu, Bu.”
          “Yasudah, kamu pikir-pikir dulu ya, kalo udah dapat kampusnya, kamu cepat kabari Ibu.”
          “Iya, Bu.” Aku tersenyum.
          Setelah Ibu keluar kamar, aku mulai mencari-cari lagi profil kampus yang sekiranya cocok untukku dan sesuai dengan jurusan yang aku inginkan. Usut punya usut akhirnya aku merasa ada yang cocok dengan basic ku. Aku tertarik dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Akhirnya aku terus mencari tahu tentang jurusan-jurusan yang ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 
          Satu pekan kemudian berlalu, akhirnya waktu yang paling menegangkan dalam hidupku terjadi, yaitu Ujian Nasional yang merupakan ujian final di sekolah. Seperti biasa aku selalu berangkat bersama Toni, mungkin ini pekan terakhir dalam sejarah kami sekolah dari SD sampai SMA ini berangkat bersama. Sedih juga perasaanku harus meninggalkan kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
          Selesai Ujian Nasional hari terakhir, aku dan Toni mengunjungi salah satu Caffe di Kota Serang untuk makan-makan dan sekedar merefresh otak karena dipakai berpikir terus selama Ujian Nasional. Sekalian merayakan 12 tahun kami terus bersama selama sekolah. Ini adalah momen yang langka juga mengharukan untuk kami.
          Setelah kutanya Toni beberapa hari lalu soal dia akan melanjutkan kuliah kemana, dia menjawab bahwa dia akan melanjutkan ke Universitas Gadjah Mada (UGM). Aku sempat terkejut juga awalnya, ternyata Toni mempunyai tujuan yang sangat tinggi. Padahal, selama ini ia terlihat biasa saja dalam sekolah nya dan tidak terlalu istimewa. Sedangkan, aku sudah mantap mau masuk ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
          Mungkin ini adalah sejarah yang paling berharga bagi kami, karena setelah 12 tahun bersama satu sekolah akhirnya kami akan berpisah beberapa waktu lagi demi menimba ilmu dan mencapai cita-cita masing-masing. Di Caffe ini, kami berbincang sangat panjang, sangat haru, juga dalam. Tak pernah terpikir sebelumnya kami akan mengambil jalan hidup kami masing-masing.
           Setelah berbincang-bincang panjang dan haru, akhirnya aku dan Toni berniat akan pulang ke rumah. Diperjalanan, kami sangat menikmati massa-massa bersama di Kota tercinta ini, sebab, mungkin ini tidak akan pernah terjadi lagi, mungkin kedepannya kami akan bertemu setahun sekali saat libur panjang kuliah, apalagi Toni yang akan berkuliah di Kota Yogyakarta, sangat jauh dari kota ini.
           Beberapa minggu kedepan, aku jarang bermain keluar rumah dan cenderung hanya menyiapkan untuk persiapan kuliah. Ibu selalu memberi nasihat-nasihat indahnya kepadaku untuk bekal hidupku di luar kota.
          Suatu hari, aku sedang bersantai di kamarku setelah mengurus pendaftaran kuliahku, tiba-tiba telpon ku berbunyi. Seketika aku angkat.
          “Arya....Arya...” sepertinya aku kenal suara di telpon ini.
          “Iya, ini Ibu Toni, ya?” tanyaku.
          “Iya, Ya.”
          Perasaanku mulai tak enak, suara Ibu Toni seperti sedang menangis tak tertahankan.
          “Kenapa, Bu? Ada apa?” tanyaku panik.
          “Toni udah gak ada, Ya, Toni kecelakaan.” Jawab suara Ibu Toni di telepon.
          Mendengar kabar itu, aku seperti sedang bermimpi, tapi rasa sakit di hati sangat nyata. Aku tak percaya, ini benar-benar seperti mimpi.
          “Ibu gak bohong kan?” tanyaku benar-benar tak percaya.
          “Enggak, Ya, Ibu serius.” Jawaban yang penuh tangisan.
          Mulai detik itu pun aku langsung down tak karuan. Sahabat yang telah bersamaku dari kecil sampai sekarang dan ia akan berkuliah keluar kota, kini sejarah berbelok drastis, Toni sahabatku sangat malang nasibnya, ia begitu cepat meninggalkanku.
          Setelah kejadian itu, ibuku selalu menemani dan menyemangatiku, ia khawatir aku sampai kenapa-napa karena sahabatnya telah pergi. Sampai sekitar satu minggu aku down tak mau makan jika tidak dipaksa oleh ibu dan sampai akhirnya aku kembali hidup normal kembali setelah kejadian itu.
          Dan akhirnya berkat kerja kerasku dan keteguhanku walau Toni telah pergi, aku berhasil lulus tes masuk UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan akan mulai masuk kuliah beberapa waktu lagi. Aku persembahkan kelulusan ku di PTN ini untuk Toni. Ibu selalu menyemangatiku dalam suka maupun duka, ia adalah pahlawan yang tak pernah bisa terbayarkan kebaikan dan ketulusannya.
 

Komentar