Kisah Santri Polos Membenarkan Genteng Majelis Yang Bocor
Perbaikan genteng berjalan dengan serius, dan suatu ketika genteng yang sudah keropos dan menyebabkan bocor itu telah ditemukan, tetapi, aku dan Adoy lupa membawa genteng pengganti dibawah. Akhirnya aku menyuruh Adoy untuk turun mengambil genteng pengganti itu.
Setelah mengambil genteng dibawah, Adoy kembali ke atas langit-langit dengan membawa genteng itu. Adoy menaiki tangga hati-hati, tangan kanannya memegang ke tangga, tangan kirinya memegang genteng, pelan-pelan tapi pasti. Setelah di ujung tangga, kepala dan badan Adoy sedikit demi sedikit mulai masuk kedalam langit-langit, dan ketika sedikit lagi akan mengangkatkan kaki ke langit-langit, salah satu kaki Adoy menyangkut ke ujung tangga dan membuat tangga bergerak oleng. Lalu, BRAKK!! Tangga pun jatuh ke lantai. Aku dan Adoy panik.
“Waduh....tangganya jatuh” aku berteriak panik.
“Yah...gimana nih, Kak?” si Adoy yang telah menjatuhkan malah balik bertanya.
“Yah... gimana nih, Doy?” aku tak mau kalah untuk bertanya balik.
Aku dan Adoy bingung bagaimana kami turun, sedangkan dibawah majelis tidak ada siapa-siapa untuk dimintai tolong. Di atas langit-langit, kami saling mengeluh dan bingung untuk turun. Genteng yang keropos sudah kami perbaiki, kemungkinan jika sore nanti hujan turun, sudah tidak akan bocor. Tapi bagaimana sekarang caranya untuk turun kebawah, aku berteriak-teriak di lubang asbes itu meminta tolong, siapa tahu ada seseorang yang lewat.
Setelah kurang-lebih 15 menit kami berteriak meminta tolong, semua hasilnya nihil, kami sudah frustasi. Dan sampai akhirnya, aku dan Adoy menemukan jalan pintas, aku dan Adoy memutuskan untuk loncat ke bawah, apapun yang terjadi yang penting kami bisa turun. Detik-detik peristiwa peloncatan pun akan segera dimulai. Aku sebenarnya sedikit takut untuk loncat ke bawah, pasti sangat sakit. Adoy memperlihatkan raut wajah yang tegang, juga melas. Akhirnya aku sendiri yang mengambil aba-aba untuk meloncat.
“Doy, kamu siap?” aku bertanya kepada Adoy untuk memastikan.
“Sii...sii..siiap, Kak.” jawab Adoy memastikan, walaupun terbata-bata.
“ Oke, aku hitung, ya, satu..dua..tiga!!”
BRAAAK...!!!
ADUUUUH.....!!!

Komentar
Posting Komentar