Saat Santri Daerah Berkunjung Ke Ibukota


Aku masih ingat waktu itu kami baru duduk di bangku kelas satu MTs. Aku, Hendri dan Bayu pergi jalan-jalan ketika kegiatan belajar di sekolah dan di pesantren sedang libur.

Suatu ketika saat hari minggu. Aku, Hendri dan Bayu izin terlebih dahulu kepada pengurus pondok yang merupakan santri senior, kami pergi jalan-jalan ke Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. Kami berangkat jam 05:45 menggunakan kereta Rangkas Jaya dari stasiun Rangkasbitung, jarak dari pesantren ke stasiun kereta tidak sampai berkilo-kilometer dan jika berjalan kaki hanya memakan waktu sekitar 5 menit saja, waktu itu tiket kereta Rangkas Jaya harganya masih murah yaitu 4 ribu rupiah, beda hal nya dengan sekarang, karena ada perbaikan fasilitas maka tiket kereta Rangkas Jaya naik menjadi 15 ribu rupiah.

Kereta kami berangkat dari stasiun
Rangkasbitung pukul 06:00, demikian aku melihat jam yang melilit di tangan kiriku disertai suara tiupan peluit petugas stasiun sambil mengangkat lampu hijau manual yang ditunjukan pada Masinis tanda kereta sudah boleh berjalan. Perlahan-lahan kereta mulai bergerak maju meninggalkan stasiun Rangkasbitung dan siap mengantarkanku dan kedua sahabatku mengunjungi Ibu Kota Negara kita tercinta.

 Kami duduk di gerbong ketiga kereta di kursi belakang pojok kanan.
Kereta berjalan mengikuti rel nya yang terkadang berbelok-belok dan menyebabkan kereta bergoyang-goyang. Dibawah gerbong, terdengar suara mesin yang kasar dan berisik, seperti suara senapan yang digunakan Polisi yang sedang baku tembak. Kulihat ke kaca kereta, pesawahan hijau yang hendak menguning pertanda petani akan segera memanen padinya. Di atasnya menari-nari burung pipit yang sedang mencari makan padi dan sesekali burung itu gagal karena petani sudah memasang orang-orangan sawah untuk menakut-nakuti burung itu agar tidak memakan padi yang hendak di panennya beberapa waktu lagi. Namun burung pipit itu tidak pernah menyerah, walaupun ia terkadang takut dengan orang-orangan sawah yang jika petani menarik-narik tali nya di saung tempat istirahat dan bergeraklah orang-orangan sawah itu lalu berterbangan pula burung-burung itu dari dekat padi, burung itu kembali dan terus mencoba demi mencari makan untuk bertahan hidup.

Tidak hanya pesawahan yang kulihat di kaca kereta itu, disana juga kulihat sungai-sungai besar yang dilewati kereta dan mengharuskan kereta melewati jembatan karena jalannya terpotong oleh sungai-sungai itu, dan sesekali jika melewati jembatan itu membuat kereta seperti terbang melayang di atas perairan yang mengalir yang bermuara di laut sana. Dibawah jembatan terlihat orang-orang kampung sedang beraktivitas, ada yang sedang mencuci pakaian, mencuci perabotan rumah bahkan mencuci kendaraan roda duanya di pinggir sungai itu. Tidak hanya mencuci kebutuhan hidup sehari-hari, ada juga sekumpulan anak-anak kecil yang sedang berenang bersama teman-temmannya. Mereka terlihat sangat ceria bermain air, tertawa lepas sambil memukul-mukul air yang diarahkan kepada temannya dan begitupun temannya yang memukul-mukul air kepada yang lain juga.

Memang sudah biasa jika melihat masyarakat pedesaan menggunakan air sungai untuk kebutuhan hidupnya. Kebanyakan mereka tidak mampu membuat sumur dirumahnya karena alasan biaya. Lantas siapa yang akan disalahkan jika seperti ini, bukankah pemerintah pusat sudah memberikan dana desa yang begitu besar? Tapi nyatanya masih banyak pula masyarakat pedesaan yang hidup jauh dari kata sejahtera.

Perjalanan keretaku sudah hampir 2 jam. Sudah mulai memasuki kawasan dimana jarang terlihat pepohonan hijau, sungai yang berair keruh dan dipadati sampah karena ulah orang-orang tidak bertanggung jawab, polusi udara dimana-mana yang keluar dari knalpot kendaraan, rumah-rumah kumuh yang berdiri di pinggir-pinggir rel kereta dan kendaraan yang bergerak sedikit-sedikit karena saking banyaknya kendaraan pribadi berlalu lalang karena tidak mau menggunakan angkutan umum yang disediakan dan dianjurkan oleh pemerintah untuk mengurangi kemacetan. Disana terlihat gedung-gedung tinggi menjulang yang terlihat indah, dan banyak terlihat mesin-mesin AC di belakang gedung tersebut yang menyebabkan bumi ini semakin panas. Ya, ini adalah Jakarta.

Kami tiba di stasiun Tanah Abang Jakarta Pusat pada pukul delapan pagi, berarti perjalanan kereta api dari Rangkasbitung ke Jakarta memakan waktu 2 jam. Hal unik pada perjalanan ini adalah padahal di antara kami bertiga belum ada yang pernah ke Monas dan hari itu kunjungan perdana kami ke Monas.

Setelah turun dari kereta, kami langsung menuju pintu keluar stasiun, lalu di tangah perjalanan menuju keluar stasiun Bayu menghentikan ku dan berkata.

“Van, aku mau hitung uang ku dulu, takut nya kurang untuk perjalanan ke Monas dan pulang ke Rangkasbitung lagi.”
Lalu aku mengangguk pertanda setuju, dan kami menuju pojokan stasiun yang tidak ada orang nya. Bayu langsung mengeluarkan uang yang di simpan di saku celananya. Tiba-tiba seorang keamanan stasiun menegur dan sangat mengagetkan kami, Hendri yang sedang asyik menikmati keramayan kota Jakarta yang di pandanginya di dalam stasiun tiba-tiba langsung terkejut kaget, Bayu yang sedang menghitung uang hampir berjatuhan ke lantai  saking kagetnya mendengar gertakan petugas keamanan stasiun yang seram itu, badannya besar seperti pemain Smack Down, kulit nya hitam seperti tukang kuli di pasar, dan suaranya besar seperti gorila yang sedang mengamuk. Lalu ia berkata.
“Sedang apa kalian di situ?” tegas petugas keamanan dengan wajah yang sangar.
Seketika aku langsung menjawab,”Maaf, Pak, kami cuma sedang menghitung uang perbekalan kami.” Suaraku terputus-putus saking takut melihat wajah seram nya.

Sepertinya petugas keamanan itu menegur kami karena melihat gerak-gerik kami yang mencurigakan seperti seorang komplotan tak di kenal yang sedang menyelundupkan obat-obat terlarang di stasiun ini, atau seperti sekumpulan perampok yang sedang menghitung dan membagikan hasil curiannya. Entahlah itu semua hanya perkiraan ku terhadap petugas keamanan itu.

“Kenapa? uangnya hilang atau ada yang mencuri?” tanya petugas keamanan itu.
“Enggak, kok, Pak, saya hanya menghitung uang saya takut kurang untuk perjalanan kami menuju Monas.” Jawab Bayu kepada petugas keamanan itu.

“Oh..Bagus jika tidak ada apa-apa, yasudah, kalo sudah selesai langsung pergi dari tempat ini, ya.” Tambah petugas keamanan menyuruh kami segera bergegas karena takut di curigai orang-orang karena gerak-gerik kami yang mencurigakan laksana komplotan perampok yang sedang membagikan hasil curiannya.

Setelah itu kami keluar stasiun berjalan kaki ke depan pusat perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara itu. sambil lihat-lihat keramaian kota, aku bertanya kepada Hendri dan Bayu.

“Kalian tahu enggak kita harus naik angkutan yang mana?” Tanya ku kepada mereka.

“ Kami gak tahu, Van.” Jawab mereka serentak sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Lalu aku berinisiatif untuk bertanya sendiri, aku menghampiri seorang pedagang jeruk di pinggir jalan. Setelah bercakap-cakap dengan pedagang jeruk tersebut, akhirnya aku tahu angkutan mana yang harus kami tumpangi agar sampai di Monas. Lalu kami menuju halte di mana angkutan itu akan menghampiri kami.

Sekitar kurang-lebih 10 menit menaiki angkutan yang jalan ugal-ugalan khas angkutan Ibukota, akhirnya kami sampai di depan gerbang menara tinggi yang menjulang ke atas berwarna putih yang selalu menarik perhatian masyarakat Indonesia khususnya Jakarta untuk berekreasi bersama keluarga, kerabat, teman, bahkan kekasih. Tak lain adalah Monas.
Kami yang baru pertama kali mengunjungi Monas sangat senang sekali bisa melihat dan menikmati suasananya yang indah walaupun tersorot sinar matahari yang panas. Hendri yang dari tadi murung karena panas dan bisingnya Ibukota, seketika ceria laksana seorang yang sedang terjebak di padang pasir yang panas lalu akhirnya menemukan ladang yang di hiasi rumput dan bunga-bunga juga pohon kelapa dan di tengah-tengah nya ada danau dengan air yang jernih nan sejuk. Wajah nya bersinar dan mata nya terlihat seperti seorang yang sedang takjub menandakan hati nya senang riang gembira.

Tak ketinggalan Bayu dengan tas gendong yang berada di belakang punggung nya, langsung lari menuju rumput-rumput hijau taman di depan menara tinggi itu. Tertawa-tawa menunjukan hati nya yang sedang senang laksana hidup yang tak ada beban. Mengguling-gulingkan tubuh nya di rumput seperti seekor kucing yang sedang lari-lari bersama teman-teman nya.

Kami berpose ria di depan menara Monas yang tinggi menjulang ke langit itu dengan kamera Hand Phone yang gelap dan jikalau foto nya di cuci di percetakan akan terlihat gelap dan muram. Kamera itu adalah kamera Hand Phone milik Bayu. Kala itu sangat jarang Hand Phone dengan kamera yang terang dan mempunyai aplikasi-aplikasi yang memanjakan dan memalaskan umat manusia seperti sekarang ini.

Hampir seharian kami bermain, tertawa, bergembira ria di taman Monas, dan kami pun sempat masuk ke dalam Monas yang di dalamnya terdapat museum sejarah. Lalu kami pun berniat pulang ke Rangkasbitung karena matahari sudah melonjong ke upuk barat menunjukan  bahwa hari sudah sore. Akhirnya kami pulang dan kini sudah tahu angkutan mana yang harus kami tumpangi menuju stasiun Tanah Abang, dan kami pulang kembali menumpangi kereta Rangkas Jaya pemberangkatan jam 5 sore dari stasiun Tanah Abang.

By: Yovanda Yusdiana Haris

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media RM Menggelar Talk Show Parenting di Tengah Pandemi

Jadilah diri sendiri, jangan terbawa arus pergaulan buruk

Ramadhan, Bengkel Bagi Manusia